Selasa, 17 Agustus 2010

untuk kekasih ku

wahai kekasihku...
masih sudikah kau menerima cintaku 
masih sudikah kau mendengar keluh kesahku 
masih sudikah kau membimbingku melewati hari hariku 

wahai kekasihku yang baik hati...
sudikah memaafkan diriku
memaafkan diriku yang telah menduakanmu 
memaafkan diriku yang memncari cinta selain cintamu 
memaafkan aku yang t'lah lupa akan dirimu 

wahai kekasihku yang sangat aku cintai...
kembalilah padaku 
kembalilah kedalam hatiku 
kembalilah untuk menemani sepinya jiwaku

wahai kekasihku yang selalu sempurna...
jangan kau beranjak dari ku 
jangan kau beranjak dari relung hatiku 
jangan skali pun kau tinggalkan aku 

wahai kekasihku yang paling mengerti aku 
taukah engkau
aku lemah tanpa hadirmu 
aku nampak begitu hina tanpa perlindunganmu 
aku begitu hampa tanpa kau dihatiku 

ku mohon...
kembalilah wahai kau yang sangat aku sayangi 
kembalilah untuk slalu bersamaku 
kembalilah wahai kekasih hatiku 

aku merindukanmu 
aku sangat merindukanmu 
aku teramat sangat merindukan dirimu 
hai kekasih ku 

hanya kau yang ku mau 
hanyalah kau
wahai Tuhanku, wahai kekasih hatiku.

Selasa, 10 Agustus 2010

maafkan aku

kau datang saat aku sedang hatiku masih terluka, disaat amarah masih menguasai seluruh jalan pikiranku, saat kebencian itu begitu melekat dihatiku, kau datang dengan membawakan sebuah cinta yang seharusnya manis terasa. 

kau datang kepadaku tawarkan cinta untuk ku yang masih terluka, untukku yang masih kecewa. Aku pun menerimanya, agar aku bisa melupakan dia yang tlah membuatku terluka, aku berikan kau sebuah harapan, aku berikan kau apa yg kau inginkan, aku tak pernah berkompromi lagi dgn hatiku, krn aku pikir percuma,  lambat laun smua akan baik baik saja. toh aku pikir cinta itu akan dtg dgn sendirinya. Yah aku pun menerimamu tanpa sebuah cinta.

Aku begitu menikmati stiap saat bersamamu, aku begitu bahagia saat kau begitu cemburu ketika ku bercerita tentangnya, aku begitu bahagia ketika aku mengenalmu, kau begitu baik untukku, kau mau mencintai dan menerima ku apa adanya, andai hatiku tak sekeras baja, mungkin aku pun akan tergila gila padamu

tapi sayang perasaan ku tak pernah berbalas untukmu krena tak sedikit pun prasaan itu tumbuh di hati, aku berikan smua perhatianku untukmu, tpi tetap percuma krn hatiku tak pernah memilihmu, kata cinta pun tak pernah hilang dari stiap sms yg ku kirimkn untukmu, smua aku rasa percuma krena hatiku tak pernah berkata hal yang sama. 
aku tlah berusaha tuk slalu mencintaimu dgn spenuh hatiku, aku tlah brusaha sekuat yang aku bisa, tpi semua itu tetap percuma 

Sakit, itu yg akan kau rasa saat kau mengetahui semua ini, tapi aku pun tak kalah sakitnya, aku sakit krena aku harus bertindak sebodoh ini, aku sakid saat aku harus membayangkan apa yang akan kamu rasakan nanti, aku sakit karena smua ini

Maaf karena tlah menjadikanmu pelampiasan untuk ku, 
Maaf atas perlakuan ku ini padamu, Maaf krn aku tak pernah mengatakan semua ini padamu, aku takud kau kan marah padaku, aku takud kau kan membenciku, aku takut kau kan melakukan hal" konyolmu 


Aku memank terlalu pandai tuk menutupi smua ini darimu, aku terlalu pandai tuk memanipulasi smua ini di depanmu, aku terlalu pandai tuk berbohong padamu
maaf karena aku hrus meninggalkan mu sperti ini, maaf krena aku pergi tanpa permisi 
maaf atas semua yang telah terjadi

Minggu, 08 Agustus 2010

Kisah sebuah pohon apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak
kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku inginsekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata
pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf
anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon
apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

NOTE :
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.